Berpredikat sebagai negara komunis, ternyata tidak membuat
Cina bebas dari korupsi. Banyak pejabat negara yang bergaji kecil, namun entah
bagaimana bisa memilki gaya hidup jetset dengan berbagai fasilitas mewah. Tak
heran, kalau data Transparency International’s Corruption Perceptions Index
pada 2012 menunjukkan bahwa Cina menempati ranking 80 dari 176 negara terkorup
di dunia.
Rupanya, ancaman hukuman mati serta metode penyidikan yang
keras tak lantas membuat orang-orang itu takut.
Pada Juli 2013, pengadilan di Cina menjatuhkan hukuman mati
atas mantan Menteri Kereta Api Cina, Liu Zhijun, yang terbukti melakukan tindak
korupsi serta penyelewengan kekuasaan.
Lelaki berusia 60 tahun itu menerima suap Rp 1,1 triliun dalam
rentang waktu 1986-2011. Dia juga bersalah karena menggunakan otoritasnya
sebagai pejabat tinggi untuk memberikan keuntungan kepada sebelas mitra
kerjanya.
Wakil Gubernur Provinsi Jiangzi, Hu Changging, juga masuk dalam daftar pejabat yang berakhir ditembak
mati setelah terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5
miliar. Ada juga Xiao Hongbo, Deputi Manager Cabang Bank Konstruksi Cina di
Dacheng Provinsi Sichuan, yang dihukum mati karena korupsi.
Xiao terbukti telah merugikan bank sebesar 4 juta yuan
(sekitar Rp 3,9 miliar) sejak 1998-2001. Pria berusia 37 tahun itu menggunakan
uangnya untuk membiayai delapan orang pacarnya.
Pada 2010, asisten menteri keamanan publik, Shaodong Zheng,
yang memimpin Ekonomi Biro Investigasi, dijatuhi hukuman mati karena kasus
penyuapan dan penyalahgunaan jabatan. Zheng disebut-sebut menerima suap senilai
lebih dari 8 juta yen pada 2001-2007.
Selain diancam hukuman mati, ketegasan pemerintah Cina
terhadap aksi korupsi juga ditunjukkan oleh metode penyidikan yang keras. Beijing
Times melaporkan bahwa seorang tersangka korupsi, Yu Qiyi (42), diduga tewas
setelah ditenggelamkan kedalam bak mandi berisi air es oleh tim penyidik. Aksi
ini dilakukan penyidik untuk memaksa Yu mengakui perbuatannya.
Yu Qiyi adalah seorang karyawan perusahaan negara di Kota
Wenzhou, yang ditahan sejak Maret 2013 terkait kasus tanah. BBC melansir bahwa
interogasi terhadap Yu merupakan bagian dari prosedur disiplin internal partai
yang dikenal dengan sebutan “Shanggui”. Semula, kematiannya disebut karena
tidak sengaja. Namun, dokumen kematian menyebutkan bahwa Yu meninggal dunia
setelah menghirup cairan yang menyebabkan paru-parunya tidak berfungsi.
Tak akan jera
Hukuman mati terhadap para pelaku korupsi ini tampaknya
sesuai dengan komitmen Presiden Xi Jinping yang bertekad melawan korupsi.
Kendati demikian, hukuman berat itu ternyata tidak lantas
membuat sejumlah kalangan puas.
Seorang pakar hukum dari Universitas Beijing, He Weifang
mengatakan, hukuman mati telah dijatuhkan kepada koruptor selama 30 tahun
terakhir. Namun, itu tidak akan membuat orang jera untuk melakukan kejahatan
yang sama.
Ini bisa mengurangi kepercayaan pada isyarat yang tengah
ingin disampaikan pemerintah. Tidak ada upaya-upaya lebih besar dalam
penanganan korupsi,” ujarnya.
Pakar politik dari Universitas Remin Zhang Ming kepada AP
menilai bahwa vonis hukuman mati kepada koruptor, khususnya Liu Zhiyun, bukan
pertanda siginifikan upaya Xi dalam melawan korupsi. Baru ketika hukuman mati
atas mantan Menteri Kereta Api Cina itu betul-betul dilaksanakan, maka akan
tumbuh kesadaran dalam masyarakat bahwa pejabat yang menghadapi dakwaan serupa
juga bisa dihukum mati.
Mantan pemimpin Cina Zhu Rongji pernah berkata: “Berikan
saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri
jika saya pun melakukan hal itu”. Ini mungkin bisa menjadi gambaran keseriusan
negeri Cina dalam memerangi korupsi.
Indonesia, apa kabar?
Sumber : Lia Marlia, Harian Umum Pikiran Rakyat, Bandung,
Minggu (Pahing) 20 Oktober 2013.
0 komentar:
Posting Komentar